“Memangnya kenapa jika wanita menyukai rokok?
Apa yang salah dengan wanita sebagai perokok aktif?” Mungkin, ini adalah
pertanyaan yang banyak ditemui jika bertanya kepada seorang wanita yang
merokok. Termasuk saya.
Entah mengapa, di kota tempat saya lahir,
Buol. Wanita perokok aktif menjadi perhatian sebagian besar orang, seperti
halnya aib yang harus ditutupi rapat-rapat. Wanita perokok aktif dimaknai
dengan berbagai macam kalimat dengan konotasi negatif. Kegiatan nikmati ini
(merokok), seolah-olah hanya dimaklumi untuk kaum pria saja, padahal wanita
juga bisa merasakannya, bukan begitu?
“Menjadi wanita, menikmati rokok saja begitu
sulit.” Inilah kalimat yang sering terlintas dipikiran saya, ketika melihat
seorang pria yang dengan leganya merokok di tempat umum.
Pengalaman saya selama menjadi wanita yang
cukup menggemari rokok, pandangan seorang pria sebagian besar akan sedikit
berbeda. Beberapa teman pria yang saya miliki pernah menyatakan bahwa, seorang
wanita yang merokok kadar kecantikannya sedikit berkurang (Entah imajinasi dari
mana pernyataan tersebut). Namun, ada beberapa juga teman pria saya yang tidak
masalah dengan wanita perokok aktif.
Saya pribadi, tidak masalah jika mendapatkan
seorang lelaki yang perokok atau tidak. Bagi saya, lelaki yang tidak merokok
tidak akan menurunkan maskulinitas mereka. Rokok bagi saya sendiri bukan
masalah perbedaan gender, semua bisa menikmati rokok (Wong wanita abad
pertengahan saja banyak yang merokok).
Stigma Wanita Perokok
Anggapan wanita perokok itu nakal, dan lebih
parahnya lagi sering disebut tak bermoral. Ini membuat saya menyadari,
konstruksi sosial memang menjadi racun yang berbahaya. Pendapat dari mana yang
mampu menyamaratakan pemikiran banyak orang? Toh ada banyak juga wanita yang
memiliki prestasi, yang tidak kalah dengan wanita yang tidak merokok.
Menurut saya, selagi kegiatan kami tidak
mengganggu kalian, tidak jadi masalah bukan? Kami juga merokok sesuai tempat.
Beda halnya jika pria yang merokok, bahkan sampai kepulan rokok mengenai wajah
mereka, tidak ada yang berani memandang sinis (mungkin hanya beberapa).
Sedangkan wanita? Saya seakan ditelanjangi hanya dengan tatapan mereka.
“Apa mungkin takdir wanita terbatas?” Saya
akan menjadi satu dari sekian banyak wanita yang menolak akan hal ini, kami
para wanita juga memiliki kebebasan yang sama dengan pria. Ada banyak sekali
stigma wanita nakal yang
sering disebutkan oleh para pria dan wanita, yang melihat wanita merokok di
tempat umum.
Stigma-stigma dari wanita yang gemar merokok
sangat melekat, seolah seperti lem permanen yang susah dipisahkan. Sering saya
dengar bahwa, wanita yang gemar merokok itu identik dengan pelarian masalah,
stress, hingga putus cinta. Lantas, apa pria selalu menghadapi masalah setiap
harinya karena ditandai dengan merokok? Lucu.
Padahal, wanita memilih untuk merokok
selayaknya pria yang memilih hal serupa. Wanita yang tidak menyukai rokok, juga
sama seperti pria yang tidak ingin meyentuh rokok. Entah karena masalah
pernapasan, atau memang tidak menyukai bau rokok.
“Saya tau betul harus memosisikan diri saya
khususnya di lingkungan yang belum saya kenal. Rasa sungkan selalu muncul dan
kadang muncul pikiran bahwa orang akan menganggap buruk kepada saya. Namun,
seiring berjalannya waktu, saya sudah tidak peduli lagi dengan stigma
perempuan merokok.” Kata salah satu teman saya.
Saya sendiri setuju, baik wanita atau pria
harus memilih lingkungan yang diperbolehkan untuk merokok. Bahkan, kita dapat
dengan mudah mengetahui sebuah ruangan yang diperbolehkan untuk merokok atau
tidak. Saya rasa, ini berlaku untuk pria dan wanita, tidak ada perbedaan.
Namun, memang stigma buruk wanita perokok sudah sangat melekat didalam
masyarakat, khususnya mayoritas Indonesia.

Komentar
Posting Komentar